Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Mengadu Hanya Kepada Allah

Pagi yang hangat saat matahari mulai meninggi. Suami saya menghentikkan kendaraan tepat di halaman Masjid Al Ittihad untuk sholat dhuha. Masjid Al Ittihad terletak di salah satu komplek perumahan di Mojokerto, Jawa Timur. Kaki kami terhenti saat seseorang yang berpakaian ojek oline duduk di serambi masjid menyapa. Rupanya bapak ojek ini mengenali kami, Pak Pri beliau di panggil. 


Foto milik Bareksa


Dia menceritakan bahwa beberapa tahun lalu dirinya sering mendapat tugas dari bapak saya untuk mengantar barang pesanan atau mengantarkan bapak ke suatu tempat. Lebih lanjut dia berusaha mengingatkan saya. Suami saya yang dari tadi bersama saya, justru mengenali Pak Pri lebih dulu. 


Kami menyempatkan untuk bertanya kabar dan ngobrol. Pri menceritakan tentang kehidupannya saat ini, menjadi seorang ojek online. Sebagai driver motor ojek online, yang lazimnya menerima panggilan customer melalui aplikasi, namun dia mengaku siap jika sewaktu-waktu ada yang menghubunginya langsung melalui chat WA atau panggilan telpon selulernya. 


Itu artinya dia harus mematikan aplikasi ojek online-nya, untuk kemudian melayani pelanggan yang langsung menghubungi dia lewat chat WA.  Dia mengatakan tak mampu menolak ketika ada tetangganya, temannya, yang membutuhkan jasanya. Bahkan ketika di tengah jalan ada orang yang tiba-tiba melambaikan tangan untuk mengantar ke suatu tempat, dia pun siap. 


Secara karir di perusahaan tempat dia bekerja, tentu ini berpengaruh. Karena ternyata keputusan dia untuk sering mematikan aplikasi ojek online-nya membuat dia tidak mendapat prioritas peluang  untuk mendapat pelanggan. 


Foto Liputan 6: Ojek Mati Gaya di Masa PSBB


Foto milik JPNN

Bukanya dia menyesali peluang yang hilang, namun dia mengatakan ikhlas mengambil keputusan, sikap seperti itu. Bagi dia tidak masalah kehilangan pelanggan melalui aplikasi. Justru dia merasa senang membantu orang- orang terdekatnya, kawan tentangga, bahkan orang yang tidak dia kenal sebelumnya yang sangat membutuhkan jasanya. Bagi dia ini sangat penting dalam hidupnya. Dia bilang, " Hidup ini akan berarti jika ada orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Dan sebaliknya, adanya kebermanfaatan yang kita lakukan untuk orang lain yang sangat membutuhkan." 


Tidak sampai disini, pribadi yang sederhana ini juga menceritakan sepenggal kisah hidupnya yang luar biasa. Suatu ketika, beberapa tahun lalu, sebelum dia di posisi saat ini, dia  di PHK dari tempat kerjanya. Di PHK karena kondisi kesehatan yang kurang baik. Sakit-sakitan dia menyebutnya. 


Dalam kondisi sakit tidak punya pekerjaan, dia hanya bisa merenung dan berdoa sama Allah. Dia mengadu dan mengaku pada Allah bahwa dia lemah dan kekurangan. Untuk biaya sehari-sehari dia hanya mengandalkan uang pesangon dan hasil ongkos jahit baju pekerjaan istrinya, yang semakin hari semakin menipis. Tidak satupun teman atau saudara dia yang tahu kondisinya. Sengaja dia tidak mau menceritakan kondisinya pada orang lain.  


Namun suatu ketika ada sahabatnya yang datang  jauh dari luar kota  yang lama tidak pernah berinteraksi. Dia memberikan uang kepada Pri cukup untuk berobat dan belanja kebutuhan beberapa hari. 


Dan setelah itu beberapa teman ada saja yang datang memberikan uang kepada Pri. Meskipun mereka tidak tahu informasi kondisi Pri sebelumnya. Dari peristiwa ini Pri semakin banyak bersyukur, kuat keyakinannya bahwa Allah Maha Penolong yang menggerakan mereka untuk menjadi perantara menolong dirinya. Allah Maha Mendengar, senantiasa mendengar doa hambaNya.


Sri Liana | EOA Media | Mojokerto

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad