Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Kita yang Munafik Ini

Jujur, sebenarnya saya malu kalau ikut acara bukber (buka puasa bersama). Malu sama orang miskin, dimana di bulan puasa ini, kita sedang mencoba memahami kelaparan mereka, ketiadaan mereka.


Karena kita sedang berpura-pura menjadi mereka, tanpa sedikit pun menjadi mereka. Kita berbuka dengan kemewahan, sedang mereka tetap seperti apa adanya. Kita punya hari kemenangan, sedangkan mereka setiap hari merasakan kalah.




Kita hanya menjalankan perintah, sedangkan mereka menjalani hidupnya. Kita hanya menunda lapar kita, sedangkan lapar ada dalam setiap tarikan nafas mereka.


Bahkan kita lebih senang menjalankan ritual tanpa perduli maknanya. Kita lebih senang menyimpan uang untuk belanja makanan berbuka puasa, tanpa memikirkan berbagi rejeki pada mereka yang sedang tidak berpunya.


Saat lebaran kita memamerkan apa yang kita punya pada keluarga, tanpa sedikitpun berfikir bahwa ada kepala keluarga yang bingung ketika anaknya bertanya, "Besok kita makan apa, Pak?"


Akhirnya setiap tahun, saya selalu merasa kalah. Kalah oleh kemunafikan saya. Tidak ada sedikit pun yang saya bisa banggakan sebagai kemenangan.


Fakta itu seperti mengingatkanku kembali akan makna berpuasa, yang hanya terdengar dalam mimbar-mimbar ceramah dan hilang ketika kaki melangkah pulang.




Manusia selalu menghibur dirinya bahwa ia sudah berbuat ibadah. Padahal ia sejatinya hanya menjalankan kewajiban belaka. Tanpa ada perintah, bisa jadi manusia akan selalu lupa fungsi dirinya di dunia.


Masihkah kita harus terus seperti itu? Marilah dengan puasa Ramadhan kita tingkatkan kualitas kita sebagai hamba Allah yang selalu pandai bersyukur dan berbagi.


Rendy Haris Syahputra | EOA Media | Padang


Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad