Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Aku Selamat Lantaran Kesombongan

Sebelum memutuskan membaca lebih lanjut lagi, penulis hanya ingin memastikan bahwa tulisan ini hanyalah sekedar bercerita. Storytelling kalau orang jaman now bilang. Pada intinya, nasihat dan kutipan doa yang terkandung dalam artikel ini, sudah banyak literasinya dan pengkajiannya. Pembaca hanya tinggal menelaah sendiri lewat fasilitas internet yang saat ini sudah luar biasa lengkap. Karena penulis dengan segala kerendahan hati, tak ingin menjadi seperti tukang ngajarin orang. Hanya ingin bercerita. Itu saja.


Lepas rindu prajurit TNI, pulang selepas perang Aceh


Jadi, peristiwa ini terjadi pada awal 2005. Saat itu sedang berada di Aceh, untuk sebuah tugas meliput kondisi transisi dari peperangan menuju perdamaian di sana. Berangkat dengan rasa was-was karena siapapun jurnalis yang ditugasi ke daerah perang, kemungkinan besar akan menghadapi medan perang tentunya. Singkat cerita, restu pertama yang harus didapat adalah dari ibunda. Meminta doa darinya supaya anaknya bisa sukses dalam melaporkan tugas jurnalistiknya serta pulang dengan selamat lahir dan batin.


Karena walau selamat lahir, banyak juga wartawan yang pulang jadi seperti setengah gila setelah mengalami langsung situasi perang. Di situlah permohonan kepada ibunda dipintakan supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Alhasil dari ibunda, inilah pesannya.


"Nak, aku ijinkan kantormu menugaskan kau ke sana. Apa boleh buat, karena bekerja adalah berkarya. Hidupmu memang harus melahirkan karya bagi masyarakat, apapun bentuknya, apakah itu informasi, barang jadi, makanan, apalah itu, yang pasti bekerja adalah pengabdian. Apa boleh buat nak, kau sudah besar dan sudah waktunya berkarya. Berkaryalah dengan niat fi sabilillah, sehingga apapun yang terjadi, nanti kau insyaAllah bisa mengejar syahid." 


Terdengar bergetar hati ini atas ucapan ibunda. Lalu dia lanjutkan bercakap.


"Yang pasti, senjata dari ibumu ini hanyalah satu hal, yaitu doa. Kau tentu sudah hafal doa ini, karena aku didik kau untuk mengingat doa ini dari semenjak kau di SD dulu. Kenapa doa ini harus kau baca, tak cuma ketika kau akan bertugas, tapi dibaca terus sehari-harinya ketika kau ingin angkat kaki dan beranjak dari tempat kau berdiam? Karena setiap detik dan setiap jengkal langkah kita, hanya Allah yang bisa meridhoi. Bahkan mana aku tahu beberapa menit setelah ini, bisa jadi kau atau aku yang mati ya toh?"


Dengan air mata yang sudah berada di sekitar kelopak mata dan hati yang terharu, hanya anggukan dan wajah yang tertunduk yang bisa dipersembahkan kepada ibunda. Lalu apakah doa yang dimaksud? Ternyata dua doa-doa ini. 


"Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah. (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya)." (dari Annas bin Malik, HR. At Tarmizi)


Kemudian dilanjutkan dengan, "...bismillāhi majrehā wa mursāhā, inna rabbī lagafụrur raḥīm." yang artinya "...naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S Hud ayat 41).


Pasukan tempur area Aceh Besar saat konflik bersenjata di Cot Glie


Begitulah. Pesan ibunda, supaya selalu ucapkan dua doa itu ketika akan beranjak pergi. Menurutnya hidup dan kehidupan ibarat bahtera yang akan mengantar kita kemanapun pergi. Apapun yang akan mengantarkan kita, dari mulai pikiran kita, hingga kendaraan yang akan ditumpangi baik bus, kereta, kapal, dan pesawat, semuanya ada dalam genggaman Allah, sehingga wajib kita mengingatNya dengan doa dan dzikir. Dua doa itu, menurut ibunda, sudah cukup mewakili diri untuk selalu mengharap perlindungan dariNya. Dengan tetes air mata, penulis pun berangkat ke Aceh berbekal nasihat ibunda.


Sampai di Aceh, singkat cerita lagi, ada satu konflik bersenjata terjadi di daerah Cot Glie, terjadi kontak senjata antara pasukan TNI dan GAM. Penyebabnya tak lain adalah masih seputar penguasaan kewilayahan, yang antara di bawah penguasaan darurat militer dan teritori TNA (Tentara Neugara Acheh), yang belum (bahkan tak akan) ingin tunduk pada peraturan darurat militer. 


Di situlah penulis benar-benar menyadari pentingnya makna doa tersebut. Perlu diketahui, para jurnalis yang akan diberangkatkan ke daerah perang, wajib mengikuti workshop yang bertema konflik dan trauma. Di situ diajarkan tentang bagaimana jurnalis harus mengikuti aturan lapangan TNI, karena bukan hanya potensi ranjau dan jebakan di kawasan demiliterisasi. Tapi juga diajarkan tentang bagaimana cara bersikap yang tidak mengundang agresifitas, seperti pergerakan mencurigakan, penelurusan fakta lapangan, yang semua harus tertata rapi dalam kondisi perang.


Tujuannya agar kita selalu waspada bahwa di zona peperangan, terutama yang sudah disepakati pembatasan jumlah prajurit dan kendaraan militer (zona demiliterisasi), kita harus selalu mawas diri karena tidak ada penguasa darurat militer  yang mengawasi. Bila terjadi korban ledakan ranjau atau tertembak oleh penjaga perbatasan zona, maka semua dikembalikan kepada penanggungjawab orang yang menjadi korban itu. Siapa yang menugaskannya, kenapa dia bersikap ceroboh, apakah tidak dilatih dulu, dan sebagainya, akan dipertanyakan kepada pemberi tugas.



Sombong


Maka secara logika sederhana, bila kita masuk ke zona perang tapi tidak diberikan pelatihan tentang apapun potensi di zona tersebut, bisa jadi hidup akan sangat singkat di sana. Begitulah maksud dari saran ibunda untuk senantiasa berdoa. Alangkah lebih baik bila kita 'melaporkan diri' kepada Allah bahwa kita sedang dalam kondisi ini, itu, dan pada tempat ini dan itu, melalui doa tersebut. Allah adalah Zat yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui apapun yang terselubung di alam semesta.


Dengan sering membaca doa tersebut, ibaratnya kita selalu senantiasa memberi tahu Allah bahwa kita butuh perlindunganNya. Ingat selalu bahwa Allah adalah pemilik kesombongan tunggal dalam hidup ini, baik di alam dunia maupun kelak di alam akhir. Sombong Allah berbeda dengan sombong manusia. Kesombongan manusia sudah pasti akan mendatangkan kehancuran. 


Boleh dicoba. Coba kita biarkan satu orang manusia sombong melakukan apa yang dia inginkan. Apa yang terjadi? Sedangkan Allah, ketika kita senantiasa mengharapkan kesombonganNya, maka yang terjadi adalah petunjuk. Dan itu niscaya.


Weapon cemetery, senjata milik para korban perang yang gugur.


Penulis selama di Aceh mendapat seorang kenalan. Ya boleh juga dibilang, informan lapangan. Dia hanya lulusan SMA namun pengetahuannya dalam menghadapi kawasan konflik, bisa dibilang setara cakap dengan prajurit garis depan. Bisa karena terbiasa, tipikal pemuda yang tumbuh di kawasan perang. Ayahnya dulu pun punya pengalaman dari era DOM (Daerah Operasi Militer). Sebut saja namanya Tengku.


Sepulang meliput konflik di Cot Glie tersebut, penulis bersama Tengku diajak untuk berziarah ke makam kawan baiknya. Rupanya kawan baiknya itu pun sesama ahli informasi sepertinya. Sama-sama lihai ketika terjun di kawasan konflik Aceh. Namun apa nak dikata, umurnya tidak panjang. Dia meninggal karena lehernya tertembus peluru. "Aku sudah memintanya untuk beristirahat. Hari itu dia sangat butuh tidur kutengok. Kalau saja dia tidur dulu sejenak, mungkin tak akan dia lengah dan tertembak," begitu ungkap Tengku ketika kami sama-sama di hadapan pusara teman baiknya itu.


Mungkin itulah maksud dari nasihat ibunda. Hanya Allah yang berkuasa atas apapun, baik hidup kita maupun hidup orang lain dan mahlukNya, bahkan seluruh yang ada di alam semesta. Allah juga yang mampu mengubah keadaan, mengubah takdir, dan mengubah segalanya. Ingatlah selalu kesombongan Allah maka insyaAllah hidup kita akan selalu banyak pertolongan. Wallahu a'lam bi showwab.




 


Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad