Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Tulisan Belakang Truk: Wasilah Hidayah

Statement yang sekaligus menjadi judul tulisan ini saya dapatkan di truk yang berhenti tepat didepan mobil kami saat menunggu lampu hijau di "Setopan bangjo" alias traffic light. Tak jarang kita dapati tulisan gambar di truk yang nampak aneh, sampai yang mengandung pornografi pun ada. Namun ternyata ada juga yang kreatif positif, isinya tentang doa, motivasi bahkan nasihat yang bikin kita tersenyum dan juga merenung. Termasuk tulisan yang akan kita bahas ini. Saya tidak tahu apa maksud sebenarnya dari penulisnya, namun saya coba memaknainya. 

Semoga tulisan yang kesannya biasa dan remeh ini, bisa menjadi wasilah hidayah bagi kita yang bisa mengambil inspirasi dan hikmah. Wa bil khusus pengingat saya sendiri.  

Merenungi penggalan kalimat pertama "Surga Bukan Hanya Milikmu", bahwa kita sering merasa baik benar sendiri. Jika perasaan ini yang terjadi, apalagi sampai terucap "menghakimi" maka sudah seharusnya kita banyak istighfar, mohon ampun. Bukankah Allah Maha Penerima taubat. 

Misalnya saat kita bertemu dengan seseorang yang nampak buruk di pandangan manusia dan juga kita tahu memang penampilannya tidak dibenarkan secara nilai Islam. Kemudian banyak orang mencaci, menghina, ghibah, dan lainnya. Lantas selang beberapa lama tidak bersua, ternyata dalam perjalananya dia bertaubat, berubah menjadi pribadi baik seperti yang Allah ridhoi. Allahu Akbar! Kalau sudah demikian, tidak ada yang mampu mencegah balasan terbaik. Surga bagi seseorang jika Allah sudah berkehendak. 

Maka kita ambil posisi hati-hati, untuk tidak memendam rasa su'udzon, buruk sangka. Namun selayaknya, kita bisa mengambil pelajaran, merubah dengan doa, dan baik sangka. Karena bisa jadi Alloh sudah menyiapkan surga baginya. 


Foto-foto dari Google


Ikut Campur

Penggalan kalimat belakang truk berikutnya adalah, "Jangan ikut campur urusan orang lain." Ini pun bisa menjadi nasihat yang membuat kita berfikir berulang jika ada keinginan buruk sangka dalam hati kita. Bahkan menjadi pencegah untuk tidak sampai keceplosan mencaci, ghibah kepada orang lain. Seberapa buruknya prilaku, pribadi orang tersebut, maka tahanlah. Sekali lagi tahanlah. Seringkali, awal dari ekspresi mencampuri urusan orang lain adalah ucapan lisan.

Namun demikian sebagai seorang muslim ada tuntunannya dalam mengelola lisan, ketika terlibat dalam urusan dengan orang lain. Nasihat Rasulullah dalam sebuah hadist. "Sesungguhnya hamba berbicara dengan kalimat yang merupakan keridhaan Allah, tanpa ia menaruh perhatian kepadanya, Allah mengangkatkanya beberapa derajat karenanya. Dan sesungguhnya, hamba berbicara dengan kalimat yang merupakan kemurkaan Allah, tanpa ia menaruh perhatian kepadanya (karena dikira tidak ada apa-apa) ia terjerumus ke neraka jahanam karenanya." ( HR. al-Bukhari). 

Guru saya ada yang menasihatkan, "Jika kamu ingin mencaci, mengumpat, ghibah, atau apapun yang berkaitan dengan kebiasaan buruk lisan kita, yang bisa membuat luka orang lain, maka tahanlah. Gigit lidahmu." Hal ini tentu bisa mencegah supaya mulut kita tidak lepas kontrol, dengan ucapan-ucapan yang tidak layak sebagai pribadi yang beriman. 

Bagaimana dengan tulisan? Ya! Tulisan sejatinya adalah ekpresi yang kita pikirkan dan kita rasakan sehingga tangan kita juga perlu kontrol untuk menuangkan buah rasa dan akal kita dengan yang baik santun dan Allah ridho. Maka tugas kita sesungguhnya banyak mendoakan kebaikan orang lain, khusnudzon, saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran dengan cara yang ahsan, cara terbaik, santun yang Allah ridho. 

Ini memang bisa dibilang ikut campur. Tapi ikut campur yang seperti ini, insyaAlloh sesuai dengan perintahNya. Karena tujuannya untuk mengajak orang lain dalam kebaikan, kembali ke jalanNya. Dan ikut campur dalam aktifitas kebaikan, menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran yang Allah perintahkan. 

Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang tidak hanya bisa menasihati, tapi juga menjadi pribadi yang siap dan legowo menerima nasihat. Karena sesungguhnya agama itu nasihat. Ketika Allah menghendaki kebaikan dan kebahagian pada kita, maka InsyaAllah kita akan dipertemukan dengan nasihat yang kita butuhkan. "Orang yang bahagia adalah orang yang ternasihati, terinspirasi dengan orang lain." ( HR. al-Qudha'i ).


Sri Liana | EOA Media

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad