Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Pengaruh Rusia Tinggi, Sanksi Harus Dihentikan

Cemas akan ketersediaan pasokan minyak mentah lantaran perang Rusia-Ukraina, Brent (kontrak patokan minyak global) menaikkan harga menjadi US$ 119 per barel. Padahal pada 2021 lalu, kelompok negara Opec+ (The Organization of the Petroleum Exporting Countries) yang dipimpin oleh Rusia, telah menyepakati penggelontoran produksi minyak, setelah dilakukan pembatasan akibat turunnya permintaan minyak dunia pada masa pandemi 2020. Kala itu, harga minyak sempat turun karena permintaan dunia ikut lesu.


Namun kini, dengan kenaikan harga minyak yang telah mencapai level tertinggi sejak 10 tahun lalu, justru 23 negara yang tergabung dalam Opec+ tersebut sepakat untuk tidak meningkatkan jumlah produksi. Mereka tak ingin mengambil kesempatan dari kenaikan harga tersebut. Mereka sepakat akan memproduksi hanya 400 ribu barel minyak mentah saja per hari, untuk kebutuhan pasar mulai April nanti. 


Pertemuan negara Opec+ | BBC London


Namun secara terpisah, seperti dikutip BBC, anggota International Energy Agency (IEA) justru menyetujui adanya produksi tambahan minyak mentah ke pasar, sebanyak 60 juta barel. Produksi itu disepakati berdasarkan strategi cadangan minyak mentah mereka. Setengah dari produksi itu diharapkan berasal dari Amerika Serikat. Namun langkah darurat itu tidak banyak meyakinkan bursa saham dan pasar minyak, karena isu kenaikan harga minyak dirasa lebih menjadi sorotan pasar.


Rusia sendiri telah mendapatkan sanksi berupa pemblokiran masuk dana hasil perniagaan mintak mentah di beberapa bank mereka. Namun kebijakan itu justru mempersulit kondisi. Banyak konsumen minyak Rusia kesulitan membayar pembelian mereka, sehingga Rusia mau tak mau menahan pengiriman minyaknya dan terjadilah kelangkaan minyak di wilayah para konsumen tersebut.


"Dalam waktu dekat kita akan mengalami peningkatan harga bahan bakar yang cukup serius. Dan ini tidak bisa diprediksi karena Rusia memiliki pengaruh yang tinggi dalam peredaran minyak mentah," ungkap Ben Cahill dari Centre for Strategic and International Studies, Washington, Amerika Serikat.


Seperti diketahui bersama, Rusia termasuk sebagai tiga besar negara penghasil minyak, selain Arab Saudi dan Amerika Serikat. Pengaruh Rusia bisa mencapai hingga 10% terhadap suplai minyak global. Eropa sendiri tergantung kepada minyak Rusia hingga sekitar 40% dari potensi gas alam mereka. Dengan pentingnya posisi Rusia di dalam pasar energi global, Uni Eropa dan Amerika Serikat akhirnya harus memilih opsi menghentikan sanksi kepada Rusia dalam hal industri minyak dan gas.

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad