Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Nuclear Tactical Weapons dan Strategi Nuklir

Perang Rusia dan Ukraina menjadikan isu penggunaan nuklir menyeruak ke mana-mana. Akankah Rusia akan merespon serangan selanjutnya dengan nuklir? Banyak mata-mata Amerika Serikat dan Eropa yang telah mengintip pola serangan hingga pernyataan diplomatik Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama invasi mereka di Ukraina. Berdasarkan kesimpulan bahwa Putin masih berada ditatanan mengancam, belum sampai di tahap rencana perang nuklir.


Dikutip dari BBC London, ahli perang nuklir, James Acton, dari Carnegie Endowment for International Pace, Washington DC, menilai apa yang dilakukan Putin sebenarnya masih di tahap taktikal, belum sampai pada strategi perang nuklir. Adapun perbedaan strategi perang nuklir dapat kita lihat bersama pada saat Perang Dingin (Cold War) di antara Rusia dan Amerika Serikat terdahulu. Pada saat Perang Dingin, strategi perang nuklir telah dipersiapkan untuk saling menghancurkan negara. Ada bom nuklir yang telah dipersiapkan dan mengarah ke masing-masing negara dari jarak jauh.


Sedangkan taktik tempur nuklir (nuclear tactical weapons), merupakan perang jarak pendek yang akan menggunakan senjata peledak nuklir yang bervariasi daya ledaknya. Paling kecil adalah 1 kiloton dan terbesar hingga 100 kiloton (1 kiloton setara dengan seribu ton TNT yang meledak berbarengan). Sedangkan pada strategi perang nuklir Perang Dingin lalu, Rusia telah menyiapkan hingga 700 kiloton senjata nuklir siap luncur.


"Putin bisa saja menggunakan taktik tempur nuklir di Ukraina. Saya kuatir begitu. Karena dia ingin agar jangan satu negara pun ikut campur di konflik tersebut. Namun untuk sampai ke rencana strategi nuklir (kemungkinan Perang Dunia III), saya rasa belum sampai situ," ungkap Acton.


Adapun berikut adalah peta kekuatan hulu ledak nuklir Rusia dibanding negara lainnya. 



Dan ini beberapa diantara kekuatan taktik tempur nuklir Rusia.




Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad