Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Kenapa Muslim Sebaiknya Jauhi Flexing

Waktu awal tercipta media sosial, orang-orang mulai memanfaatkan ruang-ruang yang bisa memunculkan aktivitas mereka di dunia maya. Sejak itulah banyak cerita-cerita, ungkapan, dan gambar tentang aktivitas mereka yang dimunculkan di galeri yang disediakan oleh media sosial tersebut. Intinya mereka ingin terlihat fleksibel alias selalu berada dimana-mana, selalu berpartisipasi di setiap kegiatan, ada di hampir semua peristiwa. Orang-orang selalu ingin dipandang aktif. Akhirnya muncullah istilah eksis terutama di kalangan muda, "Nggak eksis, ngga seru!"


Thorstein Veblen dalam bukunya "The Theory of the Leisure Class: An Economic Study in the Evolution of Institutions", mengatakan ada kecenderungan manusia untuk terlihat fleksibel dan eksis di tengah masyarakat. Bahkan Strategy Lab California (SL) mengibaratkan teori Veblem dengan ekor merak, "Apakah ekor merak jantan harus selalu besar dan warna warni?" Maknanya menurut SL adalah, pada hakikatnya aktivitas "flexing" burung merak sudah bisa menggambarkan tujuan netizen, yaitu menarik perhatian orang lain, sesuai dengan apa yang kita inginkan dari apa yang kita punya.


Merak albino | Getty Images


Ya, jawabannya tentu saja burung merak jantan harus memiliki ekor yang berwarna warni, karena burung merak betina tidak. Karena merak betina tidak memiliki apa yang dipunyai jantan, maka di betina mencari jantan yang memiliki keunikan tersendiri di matanya. Kemudian dengan keindahan yang dipunyai, merak jantan memamerkan keindahannya, dengan mengibarkan ekornya semaksimal mungkin. Ketika betina menemukan yang pas di hatinya, si betina pun rela dikawini saat itu juga. Inilah yang disebut flexing sesungguhnya, yakni upaya merak jantan mencari jodoh.


Begitulah hewan. Mereka tertarik dengan apa yang menurut nalurinya menarik. Namun berbeda dengan manusia. Tak hanya naluri yang 'dimainkan' dalam mencari sesuatu yang menarik, karena ada logika dan akal sehat yang harus digunakan sebagai pertimbangan lebih jauh. Seseorang yang tertarik dan terlena karena aksi flexing orang lain, berarti bisa dibilang bahwa mereka masih memandang melalui nalurinya. Kaum lelaki biasanya melakukan aksi flexing dari harta, kedudukannya, perempuan biasanya dari belanja barang mahal, kecantikan wajah, bahkan hingga kemolekan tubuh.


Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya mengatakan, pencapaian tertinggi seorang manusia adalah ketakwaan. Maka dengan menganggap pencapaian maksimal seseorang adalah karena apa yang mereka punya, maka apa bedanya dengan merak jantan? Bahkan bisa jadi orang tersebut telah menjadi seseorang yang syirik kecil, dimana lebih mengagungkan materi ketimbang peningkatan iman. 


Sedikit melihat yang pamer harta, pamer kemolekan tubuh, langsung follow, stalking, dan adoring (mengidolakan). Padahal Islam mengajarkan idolakanlah, mereka yang berakhlak mulia seperti Nabi Muhammad, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Siti Maryam, Siti Aisyah, dan orang-orang soleh. Merekalah yang seharusnya di-follow sunnahnya, di-stalking riwayatnya, dan di-adore cara hidupnya. Maka mari kita kembalikan lagi cara pandang diri di tengah modernisasi kehidupan yang serba cepat berubah ini, dengan tuntunan yang baik dan benar.






Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad