Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Ideologi Islam untuk Kemaslahatan Umat

Bila berbicara tentang kemajuan Islam yang sangat pesat di zaman Nabi Muhammad SAW, maka mau tak mau, ekonomi dan politik pun harus ikut berbicara. Mengapa dulu Utsman bin Affan hingga sekarang masih bisa menjamin hak fakir miskin dan yatim piatu? Maka melalui artikel ini, mari bersama kita simak satu per satu unsurnya.


Utsman bin Affan kala itu membeli ½ sumur Yahudi dan mewakafkannya (hasilnya dipakai cuma-cuma demi kehidupan banyak orang). Akhirnya Utsman pun membeli sisanya, sehingga total menjadi 38.000 dirham dan mewakafkannya. Aset wakaf berkembang, terbelilah kebun kurma. 


Kebun terus dirawat dibawah kelolaan kementrian wakaf mulai masa Turki Utsmanu hingga saat ini, dengan 1.550 pohon. Lalu ½ hasil kebun diserahkan ke fakir miskin dan yatim piatu. Sisanya diakumulasikan oleh nadzir (pengelola wakaf). Maka tak ayal kesejahteraan masyarakat dari wakaf Utsman bin Affan masih terasa hingga kini. Apakah hal itu bisa juga terjadi di Indonesia?


Kebun Utsman bin Affan | PWMU.co


Sebelum menjawabnya, mari kita ukur kekuatan Islam secara politik di negeri ini. Sebenarnya sudah banyak pihak yang memaparkan data-data dukungan politik Islam tersebut. Di negara ini, kekuatan politik Islam maksimal baru bisa 13% dari dukungan total pemilu. Padahal kalau dari aksi massa, di satu daerah bisa 70% turun ke jalan. Bila daerah per daerah di Indonesia dikumpulkan, mungkin bisa saja 55% dukungan diraih. Tapi sayangnya itu hanya hitung-hitungan di atas kertas. Kenyataannya tidaklah seindah perhitungan tersebut.


Terlebih kondisi diperberat dengan sistem pemiliu di negara Indonesia kini. Indonesia sejak pasca reformasi, telah mengadopsi sistem pemilihan umum secara langsung, yang pada ujungnya membutuhkan dana penyelenggaraan yang fantastis. Maka partai-partai politik (parpol) yang berduit banyaklah yang bisa unggul. Ideologi mereka pun beraneka macam. Setelah kondisi diperberat dengan sistem pemilu langsung, terbebani lagi dengan isu Islamophobia sehingga parpol berbasis Islam semakin banyak lawannya.


Dua kondisi berat itu: sistem pemilu langsung yang berimplikasi butuh uang banyak dan Islamophobia menjadi tantangan yang harus dijawab satu per satu. Maka menurut opini penulis, yang menjadi perhatian untuk meningkatkan dukungan politik Islam, salah satunya adalah mengembalikan ideologi "Rahmatan lil 'alamin" di segala sisi. 


Wakaf


Partai Islam kurang berduit? Maka mungkin solusinya adalah bagaimana mencari dukungan finansial yang sesuai petunjuk Al Qur'an dan hadits. Rahmatan lil 'alamin berarti rahmat bagi semesta alam. Islam selain sebagai agama, juga berideologi luhur yakni memiliki kemanfaatan yang tinggi bagi umat manusia dan mahluk lainnya di dunia ini. Aktivitas muslimin dan muslimat sepatutnya memberikan manfaat bagi seluruh isi muka bumi, bukan sebaliknya, merusaknya.


Dari kegiatan atau aktivitas yang dilakukan, kita ambil dulu di sisi ekonomi. Ada konsep ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, dan wakaf) yang memiliki kemanfaatan sangat luas bagi masyarakat pada umumnya. Dan dari unsur ZISWAF tersebut, wakaf adalah satu-satunya yang bisa dikembangkan dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Berbeda dengan zakat, infaq, dan sedekah, yang tidak dibolehkan mengambil manfaatnya karena manfaat ketiga unsur itu sudah ada objeknya.


Sedangkan pada wakaf, berdasarkan banyak hadits shahih, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa tidaklah berdosa orang-orang yang mengurus wakaf (nadzir) bila mereka ikut memakan hasil dari pemanfaatan wakaf. Ini artinya ketika wakaf dijadikan sebuah modal investasi dan menghasilkan keuntungan, maka tidaklah haram bagi nadzir untuk mendapat nafkah dari keuntungan wakaf. Asalkan, investasi yang didapat dari dana atau aset wakaf, digelontorkan untuk hal yang ma'ruf (benar) atau bisnis yang halal. Lalu bukan untuk tujuan menimbun keuntungan tersebut.


Secara teknis, misalnya ada bisnis jual produk makanan. Ketika dana investasi didapat dari seseorang atau lembaga, maka kewajiban pengelola adalah mengembalikan dana investasi plus keuntungannya. Ini berarti produk tersebut akan ada kenaikan harga, seiring dengan target atau ambisi para investor. Bila target tidak tercapai, maka investor bisa saja menarik dukungan dananya dan membuat bangkrut usaha produk makanan tersebut.


Tapi tidak dengan sistem wakaf. Bila investor bisnis produk makanan tersebut datang dari dana umat yang diwakafkan, maka apa yang terjadi? Bahkan produk makanan tersebut bisa saja digratiskan bila memang terjadi darurat demi menolong kepentingan umat, dan di waktu yang sama, bisa juga ada harga khusus demi menjaga perputaran bisnis. Dari contoh sederhana tentang wakaf tersebut, akhirnya kita juga bisa menemukan sistem subsidi silang. Maka penguatan dukungan Islam di berbagai segi, sebaiknya bisa dimulai dengan menggalakkan sistem wakaf di banyak daerah.


Islamophobia


Isu yang dihembuskan dari phobia terhadap Islam pada intinya adalah isu kekerasan dan fitnah. Cibiran mereka para haters Islam tak lain adalah muslimin dan muslimat yang senang kekerasan dan teror. Kemudian orang-orang Islam tidak takut dengan kesengsaraan karena sengsara demi membela agama Allah adalah bentuk jihad. Kekeliruan anggapan tersebut, kembali harus kita jawab dengan "Rahmatan lil 'alamin" tadi.


Kekerasan demi kekerasan yang terjadi, seperti telah terkuak bersama, ternyata dilakukan oleh orang-orang yang kurang literasi, yang kemudian dibonceng oleh pihak-pihak di luar Islam secara ideologis. Sedangkan mereka yang sangat kuat pemahaman tentang Islam dan penuh literasi ke-Islamannya, terbukti juga adalah mereka yang banyak memberikan manfaat bagi banyak orang, yang diantaranya adalah para wakif yang mulia. Maka orang-orang seperti itulah yang wajib kita cetak lebih banyak, bahkan sebanyak-banyaknya untuk memerangi fintah dan Islamophobia.


Maka setidaknya, ada dua hal yang patut menjadi perhatian dalam memperkuat kembali dukungan Islam untuk masyarakat, terutama di negara Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Keduanya adalah menunjukkan kepada dunia tentang makna "Rahmatan lil 'alamin" yang benar dan sejati, dan memperdalam literasi tentang hal-hal praktis dari Al Qur'an dan hadits, yang memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat, seperti salah satunya: wakaf.  

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad