Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Design Thinking dalam Mendesain Sesuatu

Persoalan baru dari hari ke hari selalu muncul di dinamika kehidupan. Tak hanya dari sisi personal, juga tak cuma di tingkatan keluarga, bermasyarakat, namun bahkan hingga ke tatanan kebijakan negara (sebagai tingkatan tertinggi seseorang yang ada di lingkup suatu negara). Dari mulai kenaikan harga barang yang juga diperberat dengan kelangkaan barangnya itu sendiri, hingga ke masalah desain atau komunikasi visual, selalu saja ada yang jadi bahan renungan.


EOA Media tidak ingin mengambil posisi sebagai kritikus apalagi menyatakan protes atas segala persoalan yang ada. Dalam hal desain visual, yang di jaman sekarang ini menjadi salah satu kekuatan berkomunikasi, maka ada baiknya kita sama-sama memahami proses pembuatan desain visual. 


EOA Media akan mengambil literasi proses pembuatan desain visual, mengintip Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 301 Tahun 2016 tentang yang berkaitan dengan desain komunikasi visual dan grafis. Dalam Kepmen tersebut, ada tiga fungsi yang patut dijadikan pegangan sebelum mendesain sesuatu, yakni to inform, to identify, dan to persuade. Yakni fungsi memberikan informasi, mengidentifikasi, dan membujuk (mempersuasi) dengan mempergunakan media grafis (yang berbasis cetak), media digital, dan environmental (lingkungan). 


Sumber infografis dari Kepmenaker No. 301 Tahun 2016


Itulah sebabnya bidang profesi Desain Grafis dan Desain Komunikasi Visual hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kemudian dari Kepmen tersebut, tepatnya di bagian B (Pengertian) poin 8 ada yang namanya Design Thinking.


Berdasarkan keterangannya, Design Thinking adalah metodologi yang digunakan oleh desainer untuk memecahkan masalah yang kompleks dan mencari solusi yang diinginkan. Design Thinking mengacu pada logika, imajinasi, intuisi, dan penalaran secara menyeluruh, bahkan hingga pada bayangan respon pemerhatinya (empati). Maksudnya adalah untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan solusi untuk mengarah pada tujuan yang diinginkan, terutama yang bermanfaat bagi pengguna.


Maka dari situ dapat dijelaskan bahwa seorang desainer, selain harus kreatif dan logis, juga harus memiliki antisipasi lebih jauh lagi. Yakni mengukur desain yang mereka buat, atas reaksi dari para penikmat, pengguna, dan pemerhatinya. Maka dari poin Design Thinking dapat kita simpulkan bersama bahwa jangan sampai seorang desainer seperti penderita autis, yang hanya memahami dunianya sendiri. Mereka harus juga punya antisipasi ke depan, dengan melakukan koordinasi dan riset dalam hal kegunaan desainnya.


Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad