Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Bahasa dan Tangki Pernikahan

Dalam materi Kuliah IcFs, dr. Sigit Setyawadi, SpOG, menyampaikan Bahasa Kasih Garry Chapman.  

Sang suami pulang agak terlambat, dia membawa kue coklat kesukaan istrinya. Sesampai di rumah, didapatinya si istri dengan muka cemberut menyambutnya. Hadiah itu diterima, tetapi tetap saja sepanjang hari istrinya cemberut. Mereka bertengkar membahas keterlambatan suaminya pulang ke rumah.

Di seberang jalan, suami yang lain juga baru pulang dari luar kota. Sesampai di rumah, isterinya bertanya, "Oleh-oleh nya mana?". Dengan terbata bata sang suami minta maaf dan menjawab bahwa seharian sibuk meeting sehingga tak sempat beli oleh-oleh. Sang istri cemberut dan ketika suami mencoba merangkul, si istri menghindar kemudian masuk ke dalam. Sepanjang hari suasana rumah menjadi tidak nyaman.

Apa yang salah dari contoh kedua suami diatas? Yang satu mencoba pulang membawa oleh-oleh tetapi diacuhkan oleh istrinya. Sedang satunya tidak membawa oleh-oleh dan membuat sang istri marah.

Itulah yang umum terjadi dalam lingkungan keluarga, hal-hal kecil yang tidak diperhatikan oleh masing-masing. Komunikasi yang tidak nyambung antara suami dan istri. Yang satu bicara Bahasa Inggris dan dibalas dengan Bahasa Perancis. Akhirnya keduanya merasa tidak cocok satu sama lain dan inilah bibit bibit konflik yang bisa berpotensi berujung perceraian jika tidak segera terselesaikan. Kesalahpahaman itu terjadi karena masing-masing tidak mengerti dengan bahasa kasih pasangannya. 

Pada kasus suami yang pertama, si suami mungkin memiliki bahasa kasih hadiah, sehingga dia merasa bahwa setiap orang akan senang jika mendapat oleh-oleh makanan yang disukai. Tetapi sayang sekali, bahasa kasih isterinya adalah waktu yang berkualitas. Sehingga ketika suaminya terlambat datang, dianggap mengabaikan dia. Hal itulah yang menyebabkan kemarahan.

Di kasus ke dua, bahasa kasih suami adalah sentuhan fisik, dia senang di rangkul, ditepuk pundaknya, dan sebagainya. Tetapi isterinya memiliki bahasa kasih hadiah. Ketika suami pulang dari luar kota tidak membawa oleh oleh, artinya dianggap tidak begitu mencintai dia. Tangki cinta di isteri mungkin berkurang lagi. Si isteri berkata dalam hati, "Sudah tidak bawa oleh-oleh, maunya main peluk saja." Si istri pun menghindari rangkulan suami tadi.


Foto : Binus.ac.id

Setiap orang memiliki bahasa kasih sendiri sendiri. Jika mereka bicara dengan bahasa kasih yang kita mengerti, maka kita akan menganggap bahwa dia mencintai kita. Tangki cinta kita akan menjadi penuh. Sebaliknya jika dia berbicara dengan bahasa kasih yang tidak kita mengerti, maka kita jadi merasa tidak dicintai. Itu akan menguras tangki cinta kita. 

Suami isteri akan tetap hidup harmonis sepanjang tangki cinta masing masing penuh. Jika ada pihak yang tangki cintanya tersedot terus sampai habis, maka dunia rumah tangga menjadi seperti neraka. Isinya ribut terus atau saling diam-diaman.

Tangki cinta yang terkuras habis, juga akan membuat kita merasa tidak dicintai dan itu akan meningkatkan potensi pertengkaran serta perpisahan. Setiap orang memiliki tangki cinta. Sepanjang tangki cinta itu terisi penuh, kita akan merasa dicintai dan juga bisa memberi cinta. Tetapi jika tangki cinta kita kosong, maka dunia seperti tidak menarik lagi.


Tips

Hampir semua penyebab ketidak harmonisan rumah tangga disebabkan karena ketidak mengertian masing-masing pasangan dengan bahasa kasih pasangannya. Akibatnya mereka seperti berbicara dalam bahasa yang tidak saling di mengerti.

Garry Chapman mengatakan, ada lima bahasa kasih yang utama yaitu :

1. Pelayanan

2. Hadiah

3. Sentuhan fisik

4. Waktu yang berkualitas.

5. Kata kata pendukung.

Salah satu cara paling jitu mengisi tangki cinta pasangan kita adalah dengan mengetahui apa bahasa kasih pasangan kita dan kemudian kita isi dengan bahasa yang dia kenal.


Jika bahasa kasihnya pelayanan, maka kita bisa memberi pelayanan atau membantu membereskan masalahnya. 

Jika bahasa kasihnya hadiah, usahakan setiap pulang dari mana saja, kita bawakan oleh-oleh. Mungkin sepotong terasi, sekotak roti  atau mobil merci.

Jika bahasa kasihnya sentuhan fisik, sering seringlah merangkul, menepuk pundak, menggandengnya di jalan, dan sebagainya. Dia akan merasa sangat dicintai.

Jika bahasa kasihnya waktu yang berkualitas, sering seringlah mengajak keluar berdua, atau hanya ngobrol berdua di rumah. Kedatangan yang terlambat akan menjadi masalah besar.

Jika bahasa kasihnya kata kata pendukung, kata kata kita menjadi sangat berarti. Pasangan kita akan mudah tersinggung dg kata kata yg tidak mendukungnya. Jadi sering seringlah memuji pasangan kita.

Usahakan kita  terus menerus saling  mengisi tangki cinta pasangan kita, dan InsyaAllah dunia akan terasa surga, keluarga yang bahagia.


Sri Liana | EOA Media

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad