Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Peradaban EOA Gelar Initial Wakaf Offering (IWO)

Untuk memasyarakatkan wakaf dalam bentuk saham, Peradaban EOA melakukan Initial Wakaf Offering (IWO) pada Minggu, 27 Februari 2022. Pengelolaan tersebut nantinya menjadikan wakaf lebih produktif, sehingga turut menggerakkan perekonomian. 

"Bismillah. Perdana "Initial Wakaf Offering". Menjadi MVP ini tak main-main, butuh ketulusan, kerendah hatian, dan cinta yang besar untuk umat (MVP (Muwakif VIP Peradaban), red). Nantikan di daerah masing-masing ya," ungkap Founder PPA Institute, Ustadz Rezha Rendy.


Dan inilah perbedaan antara zakat, infaq dan sedekah, serta wakaf :

• Zakat bersifat wajib, jumlah dan waktunya ditentukan, juga penerimanya. Lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dhururiyah.

• Infaq dan sodaqoh lebih fleksibel, baik waktunya, penerima, maupun jumlahnya (meskipun terbatas). Namun tetap dalam koridor dhururiyah dan hajiyyat.

• Wakaf bersifat sustainable (berkelanjutan), berorientasi jangka panjang (tahsiniyyat), jumlahnya pun signifikan.


CEO Energi Coop, Ustadz Randhito Mueghni


Seperti diketahui bersama, sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang populer bukanlah jual beli saham, melainkan wakaf produktif. Seperti Umar bin Khattab yang mewakafkan kebun kurma dan Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur.

Umar bin Khattab kala itu mendapatkan harta berupa tanah di Khaibar, lalu dia menemui Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Aku mendapatkan harta, dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana Tuan memerintahkan aku tentangnya?" Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jika kamu mau, kamu pelihara pohon-pohonnya. Lalu sedekahkan (hasilnya)."

Maka oleh Umar pun hasilnya disedekahkan, dimana tidak dijual dan tidak juga dihibahkan dan diwariskan. Umar sedekahkan hartanya itu untuk para fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, mendukung fii sabilillah (di jalan Allah), untuk menjamu tamu, dan juga ibnu sabil. Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan, tidak dosa bagi orang-orang yang mengurusnya (pengurus wakaf) untuk memakan darinya, dengan cara yang ma'ruf (benar). Serta pula boleh digunakan untuk memberi makan teman-temannya. Asalkan bukan untuk maksud menimbunnya.

Kemudian Utsman bin Affan kala itu membeli ½ sumur Yahudi dan mewakafkannya (hasilnya dipakai cuma-cuma demi kehidupan banyak orang). Akhirnya Utsman pun membeli sisanya, sehingga total menjadi 38.000 dirham dan mewakafkannya. Aset wakaf berkembang, terbelilah kebun kurma. 

Kebun terus dirawat dibawah kelolaan kementrian wakaf mulai masa Turki Utsmanu hingga saat ini, dengan 1.550 pohon. Lalu ½ hasil kebun diserahkan ke fakir miskin dan yatim piatu. Sisanya diakumulasikan oleh nadzir (pengelola wakaf).




Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad