Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Peningkatan Child Abuse di Masa Pandemi

"Saya ini ndak telaten rasanya ngajari anak".     

"Kalau aku sih seneng-seneng aja ndampingi anak, tapi giliran dia sudah nggak  fokus  tak cubit ae".    

"Aku dari pada tambah repot dan biar nggak konflik sama anak, tugas sekolah anak  tak kerjakan saja beres".        


Itulah obrolan dan curhatan emak-emak di sekitar rumah akhir akhir ini, seiring dengan anak yang banyak belajar dari rumah atau orang tua -terutama ibu, menemani anaknya belajar dengan cara daring lantaran pandemi COVID-19. 

Kalimat-kalimat tersebut menyiratkan betapa mendampingi anak punya tantangan besar lagi berat. Apalagi jika tidak dibarengi dengan kesabaran, maka yang terjadi adalah konflik antara anak dan ibu atau antara anak dan orangtua. Dari  mulai tingkat yang paling ringan, bahkan sampai pada tindakan kekerasan. Dan sayangnya, konflik dan kekerasaan berpotensi meninggalkan jejak luka batin yang akan memengaruhi perjalanan kehidupan si anak, jika tidak segera di sembuhkan. 




Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 8-14 Juni 2020 melakukan survey yang melibatkan 25.164 responden. Hasil survey menunjukkan bahwa anak-anak mengalami kekerasan psikis dan fisik selama pandemi. Adapun rincian bentuk kekerasan yang terungkap dari survey tersebut, antara lain dicubit (23%), dipukul (9%), dijewer (9%), dijambak (6%), ditarik (5%), ditendang (4%), dikurung (4%), ditampar (3%), diinjak (2%). 

Data ini bagi kami menjadi perenungan. Kenapa kita orang tua (yang seharusnya), orang yang tidak hanya dekat dengan anak tapi juga melahirkannya, anak adalah darah daging, terkadang menjadi tega bersikap, berucap, dan bertindak yang berdampak buruk bagi psikis dan fisiknya? Kita berlindung dari hal buruk tersebut.

Hal terpenting yang seharusnya kita genggam adalah kesabaran. Setidaknya kesabaran inilah yang akan menjadi benteng bagi orang tua dalam mendampingi proses belajar anak. Menjadi sebuah interaksi indah penuh berkah.

Alih-alih orang tua berat menghadapi permasalahan dengan anaknya, sesungguhnya kunci utama, sebagai pemeran utamanya adalah pribadi yang menghadapi permasalahan. Karena kita ini manusia, pribadi yang tidak lepas dari masalah. Bukanlah masalah yang menjadi fokusnya, tapi bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Mungkin si A dan si B punya masalah yang sama, namun dampaknya berbeda. Yang B stress, sakit, yang A sehat, sabar, terkendali. 

Mengutip pernyataan seorang psikolog Triatno Y. Prabowo, M. Psi, ada tujuh aspek kesabaran:

1. Pengendalian diri. 

2. Kemampuan bertahan dalam situasi sulit. 

3. Kemampuan menerima kenyataan. 

4. Kemampuan berpikir panjang. 

5. Gigih tidak putus asa. 

6. Mampu bersikap tenang. Melihat permasalahan secara jernih, obyektif, jangka panjang jangka pendek. 

7. Sikap memaafkan, menjaga hubungan yang baik. Siap dan bisa memaafkan. 

Ketujuh aspek tersebut bisa menjadi takaran kadar kesabaran kita. Meski pada prakteknya memang tidaklah sesederhana yang diangankan dan jauh dari ideal. "Namun setidaknya ketika muncul tantangan, harapan tidak seindah kenyataannya, dan semua itu akan memicu munculnya kemarahan dan ketidak sabaran, maka  kita perlu jeda sejenak. Ambil nafas dengan sadar dan ingat kembali poin aspek kesabaran yang seharusnya kita kedepankan," ujar Psikolog Pihasniwati dalam sebuah seminar bertema Terapi Relaksasi Dzikir dan Self Talk. 

Ketika setiap langkah kita ingin dibersamai Allah, maka sudah seharusnya pilihannya pada istiqomah, bersabar. "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar." (Q.S. Al Baqarah: 153).


Sri Liana | EOA Media

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad