Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Imbas Pasca Tabrakan Asteroid Mulai Ditelaah

Bila para ilmuwan antariksa dunia belakangan ini kerap mengabarkan adanya kemungkinan asteroid menabrak bumi, atau setidaknya memberitakan benda-benda langit yang mendekati bumi, baru-baru ini para ilmuwan justru mengalihkan fokus perhatian ke hal lain yang lebih serius. 

Profesor Fisika dan Astronomi dari Beloit College, Wisconsin, Amerika Serikat, Britt Scharringhausen, mengungkapkan bahwa kemungkinan punahnya kehidupan manusia pasca tabrakan fatal asteroid terhadap bumi, masih bisa terhindarkan. "Asalkan diantisipasi," ungkap Scharringhausen seperti dikutip The Sun.


Ilustrasi Ney York Post


Berkaca pada jejak asteroid berdiameter lebih dari 12 kilometer yang menabrak bumi pada era kehidupan dinosaurus jutaan tahun silam, selain berakibat terjadinya tsunami maha besar dan debu panas akibat imbas tabrakan, kepunahan dinosaurus juga terjadi akibat proses kimiawi yang masif.

Karena asteroid besar tersebut pada saat itu menghantam samudera, akibatnya terjadi hujan asam dari reaksi antara air laut dengan pecahan-pecahan partikel yang membumbung di udara setinggi ratusan kilometer dari permukaan bumi. Pecahan juga mengakibatkan debu sangat tebal di udara yang menutup penetrasi sinar matahari.

Dengan kondisi tersebut, maka sangat kecil kemungkinan kehidupan bisa bertahan di muka bumi. Sementara mengenai antisipasi yang dikemukakan Scharringhausen demi menyelamatkan kehidupan bumi dari kemungkinan kepunahan, CEO Space X, Elon Musk, telah menciptakan DART.

Alat yang dimanakan Double Asteroid Redirection Test (DART) itu telah diluncurkan September 2021 lalu. Dengan DART tersebut, maka kemungkinan pergerakan asteroid dapat diprediksi. Dan bila terjadi potensi tabrakan lantaran asteroid melintas dalam satu lintasan bumi, DART mampu meledakkan diri bersama asteroid, untuk memperkecil ukurannya saat menghampiri atmosfer.

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad