Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Hikmah Isra dan Mi'raj Bagi Manusia

Isra dan Mi'raj dari jaman ke jaman, tak luput dari pro dan kontra. Ada yang mendarah daging tidak akan memercayai kedua peristiwa itu, ada pula yang teguh percaya penuh dengan apa yang dialami Nabi Muhammad SAW pada tahun 621 M silam atau tahun 10/11 dari kenabian (Bi'tsah) itu. Namun bagi umat Islam di seluruh dunia, hanya firman Allah dalam Al Qur'an saja yang lebih dari cukup untuk meyakinkan tentang Isra dan Mi'raj tersebut.


Seperti kalam Allah dalam Surah Al Isra ayat 1 ini :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya :

"Maha Suci Allah (الله) yang telah memperjalankan hambaNya pada (sebagian) malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".


Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) yang berjarak sekitar 1.200 kilometer. Sedangkan Mi’raj adalah dinaikkannya Nabi Muhammad SAW ke langit hingga Sidratul Muntaha yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Sebagai gambaran saja bahwa jarak rata-rata bumi dan matahari mencapai 148,19 juta kilometer. Keduanya terjadi hanya dalam sekejap, melesat menggunakan Buraq. Menurut perhitungan akal, jelas peristiwa tersebut mustahil dilakukan. 

Bahkan bila dilogikakan lagi, Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh, menurut banyak ulama adalah lokasi yang terjauh di alam semesta. Tak satupun pesawat antariksa di jaman post-modern ini, yang mampu berkecepatan setinggi Buraq, yang bahkan bisa melakukannya pulang pergi. Pasti pesawat itu akan luluh lantak lantaran gesekan di antariksa. Dan yang lebih luar biasa lagi, manusia biasa bertemu dengan Allah hanya melalui 1 pintu yakni kematian. Sedangkan Rasulullah SAW tidak. Maka hanya mereka yang berakal dan selalu dekat dengan Al Qur'an-lah yang memahami Isra dan Mi'raj.


Ilustrasi https://assets.promediateknologi.com/

Salah satu alim ulama dan cendekia muslim Indonesia, Ustadz Adi Hidayat, memberikan pengibaratan dengan logika yang indah tentang perjalanan Isra dan Mi'raj tersebut. "Sebagaimana semut, yang tentunya peradaban mereka bagai bumi dan langit bila dipersamakan dengan manusia. Namun bukan tak mungkin semut pun bisa melakukan perjalanan keluar negeri dan singgah di berbagai tempat dalam satu hari, kemudian semut itu kembali lagi ke lokasi asalnya," ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Mengapa tidak mungkin? Ustadz Khalid Basalamah mengungkapkan, dari awal penciptaan alam semesta ini, mustahil ada yang tak mungkin bagi Allah. Hanya saja, tak semua hal mustahil dapat dicerna oleh logika manusia, bahkan sekelas profesor pun. Isra dan Mi'raj adalah peristiwa yang dianggap mustahil bagi mereka yang tidak memahami ilmu Allah dengan hati yang bersih. 


Logika Semut

Lalu apa maksud dari semut dengan peristiwa Isra dan Mi'raj itu? Bila dilogikakan secara sederhana, dengan qadarullah, Allah bisa saja menempatkan seekor semut di bandara ke dalam koper seorang pebisnis atau profesional yang sedang bertugas dari Jakarta ke Singapura misalnya. Berangkat dari Jakarta pukul 5 pagi dan sampai di Singapura, pukul 7 pagi, ternyata semut tersebut berpindah koper ke seseorang yang akan terbang ke Manila, Filipina. 

Sampai di Manila pukul 12 siang, semut tersebut terbawa lagi ke seseorang yang akan melakukan penerbangan ke Jakarta. Sampai di Jakarta pukul 17, semut itu terbawa ke penumpang yang akan naik travel ke Bandung. Setiba di Bandung pukul 21 malam, semut tersebut pun masuk ke dalam bungkusan makanan seorang sopir yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Alhasil semut telah kembali lagi ke Jakarta sebelum 24 jam, dengan berbagai lokasi dan perjalanan perpindahan ke objek-objek di sekitarnya.

Maka bila kejadian itu dipandang dari logika seekor semut, yang terjadi adalah sesuatu yang mutlak mustahil. Memangnya berapa kecepatan semut merangkak, sehingga diharapkan akan melakukan perjalanan ke area regional sebanyak itu? Bila pun dilakukan secara merangkak, maka perjalanan pulang pergi dari Jakarta-Singapura-Manila-Jakarta-Bandung dan kembali lagi ke Jakarta, akan butuh waktu hingga belasan tahun. Waktu yang mustahil bagi umur seekor semut.


Semut di bandara | https://atlantamagazine.com/

Dan melalui Isra dan Mi'raj, Allah memilih manusia terbaik untuk melakukan perjalanan spiritual tersebut, yakni Nabi Muhammad SAW. Hasil dari perjalanan itu, Allah memberikan petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW, yakni cara berkomunikasi langsung umat Islam kepada Allah azza wa jalla. Komunikasi antara Allah dan mahlukNya itulah yang disebut dengan sholat lima waktu. Maka bila manusia menempatkan cara berpikir mereka atas peristiwa Isra dan Mi'raj, hasilnya adalah non sense. 

Namun ternyata kehidupan di muka bumi ini, di ruang angkasa, hingga alam semesta, bukanlah sesuatu yang hanya sebatas akal manusia. Ada banyak hal yang masih belum terjangkau akal manusia. Dan hanya melalui izin Allah, hal-hal yang mustahil sedikit demi sedikit dapat terkuak seiring kemajuan peradaban manusia. 

Dari peristiwa Isra dan Mi'raj itu pulalah, Allah menitipkan pesan kepada seluruh mahluknya agar jangan takabur dan tetap mengingatNya, melalui sholat serta terus belajar dari Al Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.


Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad