Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Belajar dari Kehidupan Terumbu Karang

Ketika kita bicara tentang agro dan maritim, maka seiring sejalan pula, seharusnya kita telah paham tentang arti ekologi. Kenapa? Karena percuma bicara tentang keduanya apabila kita sendiri tidak paham makna dari ekologi. Adapun ekologi ialah pengetahuan tentang hubungan atau interaksi antara makhluk hidup satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga dengan lingkungan sekitarnya (ekosistem).

Bicara tentang potensi pertanian, kehutanan, perkebunan, dan kelautan tanpa memahami pentingnya hubungan ekologis di suatu area, ujungnya hanya akan mengeksploitasi berlebihan tanpa memikirkan pemulihan lingkungan. Pemahaman tentang ekologi, setidaknya harus bisa mengingatkan diri manusia itu sendiri, untuk mengontrol tindakannya terhadap eksploitasi lingkungan. Ambil contoh pada kehidupan terumbu karang (coral reef). Terumbu karang sebenarnya adalah hewan. 


Coral reef illustration | Magicmurals.com


Terumbu karang merupakan hewan yang berasosiasi dengan para simbion atau makhluk yang hidup bersimbiosis. Adapun simbiosis adalah bentuk hubungan antara makhluk hidup, baik hubungan yang menguntungkan atau merugikan, dan hubungan tersebut terjadi dengan erat. Simbiosis terjadi antara mahluk, bahkan dengan yang berbeda jenis. Misalnya lebah dengan bunga, pohon mangga dengan benalu, dan ikan hiu dengan ikan remora.

Sedangkan di terumbu karang, simbion yang ada adalah simbion penghasil CaCO3 (kapur) dan memperoleh energi dengan cara fotosintesis oleh alga (zooxanthellae). Terumbu karang kebanyakan hidup di perairan yang tenang dan miskin akan unsur hara (nutrisi yang terkandung). Terumbu karang juga memiliki ketahanan hidup yang pendek terhadap perubahan lingkungan. Terumbu karang yang mengalami kerusakan secara alami akan mengalami pemulihan (recovery) dan kembali normal pada kondisi semula (resiliensi). 

Pemulihan dan resiliensi terumbu karang ditandai dengan kemunculan biota karang. Biota adalah kehidupan yang terjadi di suatu tempat, pada waktu tertentu. Maka yang menjadi pertanda bagi pulihnya terumbu karang adalah adanya biota karang, yang dalam ukuran kecil. Misalnya adanya anak-anak ikan (juvenil) di sekitar karang. Selain adanya juvenil, juga ditandai kemunculan biota pemangsa (predator) dan biota kompetitor lainnya. Itulah sebabnya, laut yang sehat adalah laut yang memiliki terumbu karang yang juga sehat, sebagai tempat hidup mahluk lainnya di perairan.

Di terumbu karang yang sudah pulih, akan terjadi peningkatan keanekaragaman kehidupan (biodiversitas) antara mahluk-mahluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain (biota asosiasi). Mereka akan berinteraksi secara ekologis pada ekosistem terumbu karang. Sehingga akan tampak jelas manfaat terumbu karang sebagai tempat yang kaya akan unsur dan senyawa kehidupan bagi mahluk hidup di sekitarnya (biomassa). Selain itu, di terumbu karang yang telah kembali pulih akan terjadi peningkatan produktivitas dalam ekosistem terumbu karang.

Meski terumbu karang memiliki kemampuan resiliensi (memulihkan diri), namun di saat ini, kemampuan itu akan sangat berat bila aktivitas manusia tidak ikut dikontrol. Pemulihan terumbu karang tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kestabilan lingkungannya. 


Suksesi

Sebelum pembahasan beranjak lebih lanjut, ada baiknya dipahami dulu tentang arti suksesi pada ekologi. Tak hanya di daratan, di dalam ekologi laut pun, lagi-lagi manusia mengambil peran. Apakah peranan tersebut akan merusak struktur ekologi atau malah makin merusaknya, semua kembali kepada kepedulian. 

Suksesi ekologi sendiri merupakan perubahan bertahap dan dapat diprediksi. Suksesi ekologi sebenarnya adalah serangkaian perubahan yang terjadi di wilayah geografis selama periode waktu tertentu. Namun proses suksesi ekologi harus terjadi tanpa adanya intervensi manusia dan terjadi dalam kerangka dinamika persaingan. 

Tapi yang bersaing bukan manusia dengan spesies lain di dalam sebuah ekosistem. Melainkan persaingan antara spesies satu dengan lainnya, dari ekosistem yang sama. Oleh karena itulah para peneliti di belahan dunia sangat berhasrat untuk mengetahui suksesi ekologi yang terjadi hingga saat ini. 

Kembali ke pemulihan terumbu karang, maka suksesi yang diperlukan ke arah pemulihan memerlukan adanya kestabilan lingkungan. Pemulihan di bawah tekanan lingkungan yang tinggi, cenderung akan kembali mengalami kerusakan, akibat tidak dapat bertahan terhadap perubahan lingkungan tersebut. Maka aktivitas manusia yang tidak ikut dikontrol akan memperberat pemulihan lingkungan di manapun.

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad