Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Orang Bijaksana Akan Hasilkan Kebijakan Tepat

Ketika seorang manusia (secara pribadi dan bukan bersama-sama atau berkelompok, apalagi bermasyarakat) menemukan banyak kemudahan dalam jalan hidupnya, maka apa yang akan terjadi? Tentu dia akan memaksimalkan pemanfaatan kemudahan itu, bahkan kalau perlu jangan sampai orang lain ikut-ikutan merasakan kemudahan tersebut. Memang akan mengerikan apabila hal tersebut dilakukan tanpa terbesit adanya rasa peduli dengan yang lainnya. Apakah peduli karena mewakili rasa kasih sayang atau pun peduli demi generasi berikutnya. 

Namun itulah yang disebut manusiawi. Karena manusia memang diciptakan beragam sifat, ada yang bisa peduli, ada yang tak mau peduli, dan bahkan ada juga yang tak paham apa yang dia lakukan. Itulah sebabnya manusia butuh sentuhan sikap bijaksana dari sesama manusia pula, demi menjaga kehidupan yang nyaman dan berkelanjutan. Tak ayal pula bila dalam suatu kumpulan manusia, katakanlah sebuah perkumpulan kecil, pasti ada kesepakatan bersama demi menjaga kenyamanan dan keamanan. Kesepakatan itulah yang disebut dengan kebijakan. 

Bila dalam suatu kelompok manusia, banyak diisi oleh mereka yang bersifat kurang peduli dan yang tak mengerti kepedulian, maka kebijakan yang dibuat pasti akan ketat dan cenderung mengikat. Sebaliknya, bila banyak yang peduli dan saling mengerti, maka kebijakan yang dimunculkan pasti lebih longgar atau terasa fleksibel.



Namun bila dikembalikan lagi kepada manusianya sendiri, maka kemunculan sifat peduli sebenarnya tergantung dari bagaimana dia mampu mengelola pikiran dan rasanya. Orang yang kurang peduli sejatinya adalah mereka yang dalam hidupnya sendiri tak percaya diri dan tidak bisa tenang menghadapi situasi. Ustadz Sonny Abi Kim mengungkapkan, seorang manusia tak mungkin bisa tenang hidupnya bila mereka belum mampu bersikap bijaksana di ranah pikiran dan perasaan mereka sendiri. 

"Mereka harus bisa mengalokasikan kekhawatiran, kegelisahan, dan kerisauannya pada tempatnya. Mana yang harusnya nanti, ya nanti, mana yang harusnya sekarang, ya sekarang. Mana yang bisa kita lakukan sebagai amal soleh, lakukanlah. Dan mana yang tak bisa kita lakukan, serahkan pada Allah, percayakan padaNya," ungkap Ust. Sonny Abi Kim. Sehingga bila semua itu dikelola dengan baik, pikiran manusia tak akan dibebani sesuatu yang tak perlu dikuatirkan. "Tugas manusia ada di fase proses. Bukan di hasil, termasuk urusan rezeki. Karena hasil, adalah Kuasa Allah," ungkapnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad