Header Ads Widget

Main Ad

Business

Main Ad

Bagaimana Cara Al Qur'an Mengobati

Kesembuhan memang ada di tangan Allah, namun kita diwajibkan berusaha untuk mencapai kesembuhan, ketika diberi sakit oleh Allah. Dalam Al Qur'an Allah berfirman, "Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS Yunus [10]: 57). Pada ayat lain, "Katakanlah, Al Qur'an ialah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman‘". (QS Fushshilat [41]: 44).

Karena itulah Al Qur'an pun memiliki nama lain yakni asy-Syifa yang berarti obat penyembuh. Saya, penulis artikel ini, pada Juni 2021 dinyatakan positif terkena COVID-19. Dan tak hanya saya, teman-teman seangkatan lainnya (teman satu almamater di SMA dan tempat kuliah) pun di bulan itu ada yang positif COVID-19. Terhitung jumlahnya (termasuk saya) ada tujuh orang. Dari tujuh orang tersebut, dua mengalami gejala parah sampai harus masuk ICU. Dari dua itu, satu orang mengalami tingkat saturasi sangat rendah hingga sempat koma selama lebih dari 14 hari.

Tapi keduanya selamat dari maut. Yang koma sampai lebih dari 14 hari, sampai kini harus tetap menjalani perawatan medis rutin dan berkala, karena organ paru-paru dia cacat. Sedangkan yang satu lagi, mengalami sobek pada jaringan paru-paru. Bahkan menurut dokter yang merawatnya, ada kebocoran di paru-paru dia. Namun beruntung dia tak sampai mengalami koma, tapi sempat kritis di ICU selama sekitar sepekan.


Diberi Keselamatan

Dari dua orang teman yang kondisinya sangat berat itu, bagaimana dengan empat lainnya? Allah Maha Berkehendak, empat kawan saya itu wafat di saat melawan COVID-19, rata-rata di hari ke-8 hingga hari ke-12. Artinya sudah enam orang teman saya yang masuk dalam kisah pembuka artikel ini. Sedangkan saya, di hari ke 2 pasca dinyatakan positif, sempat mengalami kadar saturasi oksigen dalam darah hingga 91% dari yang seharusnya minimal 95%. Nafas rasanya pendek seperti orang yang berendam di kolam renang yang airnya setinggi dada.

Saya di isolasi di kamar terpisah di rumah saya (isoman). Hanya bisa melakukan komunikasi lewat WhatsApp (WA) dengan istri dan anak-anak saya yang alhamdulillah mereka negatif hasil swab antigennya. Dokter klinik pun meminta istri dan anak saya untuk melakukan swab PCR dalam 6 hari ke depan, setelah saya dinyatakan positif. Atau setidaknya mengabarinya bila ada gejala seperti yang saya rasakan. Tapi alhamdulillah hingga hari ke 7 mereka semua sehat wal afiat. 

Sedangkan saya, sejak masuk hari ke 2 bersama penyakit COVID-19 yang laknat ini, bernafas saja rasanya tidak nyaman. Saya pun memberi tahu istri lewat WA tentang apa yang saya rasakan itu, lalu dia forward WA saya ke dokter klinik yang mengobati dan memerintahkan saya isoman. Kata dokter, saya harus berlatih nafas dan berjemur matahari setiap pagi. Berlatih nafas dalam artian seperti latihan pernafasan, atur nafas hirup-hembus supaya paru-paru tidak kaku.



Karena di dalam paru-paru terdapat jalur yang bercabang-cabang. Dan pada ujung cabangnya terdapat alveolus yang bentuknya mirip anggur. Disinilah terjadi pertukaran antara oksigen yang kita hirup dengan CO2 yang akan dibuang keluar. Semakin lama durasi interaksi antara oksigen yang kita hirup dengan alveolus ini, maka akan semakin banyak pula oksigen yang terserap.

Dari situ, saya ingat seorang ustadz yang mengajarkan, bahwa ada waktu tertentu dimana interaksi oksigen di dalam paru-paru bisa maksimal. Kapan kira-kira waktu interaksi terpanjang antara alveolus dan oksigen itu terjadi? Salah satu jawabannya adalah pada saat shalat dan tilawah Al Qur'an. Pada saat shalat dan tilawah, kita menghirup udara dalam-dalam, tapi mengeluarkannya dengan perlahan-lahan. Pada saat itulah durasi interaksi antara alveolus dan oksigen sangat panjang, sehingga oksigen pun terserap maksimal.

Para ilmuwan mengistilahkan peristiwa itu sebagai SEWOT (bukan sewot versi Indonesia ya). SEWOT adalah Shalat is Excercise With Oxigent Therapy. Ada juga ilmuwan yang mengatakan : "Humming is good for your health" (Bergumam itu baik untuk kesehatanmu). Itulah sebabnya, menurut sang ustadz, mengapa orang muslim yang rajin shalat dan tilawah Al Qur'an terlihat bercahaya pada wajahnya dan lebih sehat. Dan juga sangat baik untuk penyembuhan penyakit, karena kebutuhan manusia yang paling esensial yaitu oksigen dapat terpenuhi secara optimal.




Dan ya, ternyata saya berhasil panen oksigen setiap kali shalat dan tilawah Al Qur'an dalam isoman saya. Selama isoman, dengan kondisi nafas yang berat, saya hanya mengisi hidup di dalam kamar dengan memperbanyak shalat dan membaca Al Qur'an. Memasuki hari ke-4 kadar saturasi oksigen saya sudah mulai berada di kisaran 95-96% dan akhirnya, sampai saya dinyatakan negatif kembali lewat swab PCR, saturasi saya di kisaran 97-99% alhamdulillah. Dan selama 17 hari isoman, alhamdulillah saya melewati juz 16, dari jus 3 yang saya baca saat hari kedua isoman.




Posting Komentar

0 Komentar

Most Recents

Main Ad